Sejarah Haji & Umrah

jamaah-haji-memanjatkan-doa-saat-pelaksanaan-ibadah-wukuf-_121025212910-108

Sejarah Haji dalam Islam bermula dari ribuan tahun yang lalu. Pada masa Nabi Ibrahim AS (1861 – 1686 SM), yang merupakan keturunan Sam Bin Nuh AS (3900 – 2900 SM). Literatur-literatur yang ada dalam khasanah Islam menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim AS lahir di Ur-Kasdim, sebuah kota penting di Mesopotamia, selanjutnya Nabi Ibrahim tinggal di sebuah lembah di negeri Syam.

Ketika sudah memasuki usia senja, Nabi Ibrahim belum juga dikaruniai keturunan. Sang istri (Sarah) sangat sedih melihat keadaan ini dan meminta Nabi Ibrahim untuk menikahi Hajar. dari Hajar inilah Allah mengkaruniai Ibrahim seorang anak bernama Ismail. Dan Sarah tidak mampu memendam rasa pilunya karena tidak mendapatkan keturunan sepanjang perkawinannya dengan Nabi Ibrahim AS.

Nabi Ibrahim AS kemudian mengadukan permasalahannya kepada Allah. Lalu Allah perintahkan Nabi Ibrahim membawa Ismail bersama Hajar untuk menjauh dari Sarah. Nabi Ibrahimpun bertanya : “Yaa Allah, kemana aku harus membawa keluargaku ?”

Allah berfirman : “Bawalah ke tanah Haram-Ku dan pengawasan-Ku, yang merupakan daratan pertama Aku ciptakan di permukaan bumi yaitu Mekkah.”

Lalu malaikat Jibril AS turun kebumi membawa kendaraan cepat. Kemudian Jibril membawa Hajar, Ismail dan Nabi Ibrahim AS. Setiap kali Nabi Ibrahim AS melewati suatu tempat yang memiliki ladang kurma yang subur, ia selalu meminta Jibril untuk berhenti sejenak. Tetapi Jibril selalu menjawab, “teruskan lagi” dan “teruskan lagi”. Sehingga akhirnya sampailah di Mekkah dan Jibril mereka di posisi Ka’bah, dibawah sebuah pohon yang cukup melindungi Hajar dan anaknya Ismail dari terik matahari.

Selanjutnya Nabi Ibrahim AS bermaksud pulang kembali ke negeri Syam menemui Sarah istri pertamanya. Hajar merasa sedih karena akan ditinggalkan oleh suami tercintanya. “Mengapa menempatkan kami disini. Tempat yang sunyi dari manusia , hanya gurun pasir, tiada air dan tiada tumbuh-tumbuhan ?” tanya Hajar sambil memeluk erat bayinya, Ismail.

Ibrahim menjawab: “Sesungguhnya Allah yang memerintahkanku menempatkan kalian di sini”.

Lalu Ibrahim beranjak pergi meninggalkan mereka. Sehingga sampai di bukit Kuday yang mempunyai lembah, Ibrahim berhenti sejenak dan melihat kepada keluarga yang ditinggalkannya. Dia lalu berdoa, seperti yang diabadikan dalam Al Qur’an. Allah berfirman mengulangi doa Nabi Ibrahim AS : ” Yaa Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Yaa Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS Ibrahim : 37)

Setelah Nabi Ibrahim AS pergi, tinggallah Hajar bersama bayinya Ismail. Ketika sinar matahari mulai menyengat, bayi Ismail menangis kahausan. hajarpun panik mencari air. naluri keibuannya berusaha gigih mencari air. Awalnya hajar naik ke bukit Shafa, tetapi tidak menemukan air. Lalu ia pergi lagi ke bukit Marwa dan disanapun tidak menemukan air. Hajar mulai panik dan putus asa sehingga tidak menyadari bahwa telah tujuh kali berlali bolak balik antara bukit Shafa dan Marwa. Namun ia tetap tidak menemukan air diantara dua tempat tersebut.

 Akhirnya dari bukit Marwa, hajar melihat ke arah Ismail. Dia heran, bayinya tiba-tiba berhenti menangis. Hajarpun melihat air mengalir dari bawah kaki Ismail. Hajar berlari dengan girang ke arah tempat bayinya. Dia berusaha menggali pasir, membendung air yang mengalir tersebut sambil melafazkan kalimat “ZAM … ZAM” (menampung). Sejak saat itu hingga sekarang, mata air tersebut dikenal di seluruh penjuru dunia sebagai sumur Zam Zam.

Berselang beberapa waktu kemudian, lewatlah kabilah Jurhum di sekitar tempat itu. Ketika berada di bukit Arofah, mereka melihat kerumunan burung-burung beterbangan di atas udara. Mereka yakin disana pasti ada sumber air. Mereka segera mendekati tempat tersebut.

Setelah sampai, mereka terkesima melihat seorang wanita bersama bayinya duduk di bawah pohon dekat sumber air tersebut. Kepala suku Jurhum bertanya kepada Hajar : “Siapakah anda dan siapakah bayi mungil yang ada dalam gendongan anda itu ?” Hajar menjawab : ” Saya adalah ibu dari bayi ini. Ia anak kandung dari Ibrahin AS yang diperintahkan oleh Tuhannya menempatkan kami di wadi ini.”

Lalu kepala suku Jurhum meminta izin tinggal berseberangan dengannya. Hajar menjawab : ” Tunggulah sampai Ibrahim datang. Saya akan meminta izin kepadanya“.

Tiga hari kemudian, Nabi Ibrahim AS datang melihat kondisi anak dan istrinya. Hajar meminta izin kepada Ibrahim agar Kabilah Jurhum bisa menjadi tetangganya. Nabi Ibrahimpun memberi izin dan Kabilah Jurhum menjadi tetangga Hajar dan Ismail di tempat itu. Pada kesempatan berziarah selanjutnya, Ibrahim menyaksikan tempat itu sudah ramai oleh keturunan bangsa Jurhum dan Nabi Ibrahim merasa senang melihat perkembangan itu.

Hajar hidup rukun dengan bangsa Jurhum hingga Ismail mencapai usia remaja. Selanjutnya Allah SWT memerintahkan kepadaIbrahim untuk membangun Ka’bah pada posisi Qubah yang telah Allah turunkan kepada nabi Adam AS. Tetapi Nabi Ibrahim tidak mengetahui posisi Qubah itu, karena Qubah tersebut telah diangkat lagi oleh Allah ketika terjadi peristiwa banjir besar di bumi pada masa Nabi Nuh AS. Kemudian Allah mengutus Jibril untuk menunjukkan kepada Ibrahim posisi Ka’bah. Kemudian Jibril datang membawa beberapa bagian Ka’bah dari surga. Dan pemuda Ismail membantu ayahandanya mengangkat batu-batu dari bukit.

Kemudian Nabi Ibrahin dan Ismail bekerja membangun Ka’bah sampai ketinggian 7 hasta. Jibril lalu menunjukkan kepada mereka posisi Hajar aswad. Kemudian Nabi Ibrahim meletakkan Hajar Aswad pada posisinya semula. lalu Ibrahim membuatkan 2 pintu ka’bah. Pintu pertama terbuka ke timur dan pintu kedua terbuka ke barat.

Ketika selesai pembangunan Ka’bah, Nabi Ibrahim dan Ismail melakukan ibadah haji. Pada tanggal 8 Dzulhijjah Jibril turun menemui dan menyampaikan pesan kepada Ibrahim.  Jibril meminta Nabi Ibrahim mendistribusikan air zam zam ke beberapa tempat seperti Mina dan Arafah. Maka hari itu disebut dengan dengan hari “Tarwiyyah” (pendistribusian air). Setelah selesai pembangunan Baitullah dan pendistribusian air tersebut, maka Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah yang tercantum dalam Al Qur’an :

” Dan (ingatlah) ketika Nabi Ibrahim berdoa : ” Yaa Tuhanku. jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa dan berikanlah riski dari buah-buahankepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemdian. Allah berfirman : ” Dan kepada orang yang kafirpun aku beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”. (QS. Al Baqarah : 126)

 Sejak itu,kaum Muslimin melaksanakan ritual haji untuk berziarah ke Ka’bah setiap tahun. Ini mengikuti risalah Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as, serta risalah para Nabi dan Rosul setelah keduanya. Ritual suci ini berlangsung terus seperti pelaksanaan yang pernah dilakukan oleh Ibrahim dan Ismail. Namun pada periode tokoh Mekkah ‘Ammarbin Luha, ritual haji mulai terkotori dengan kahadiran patung dan berhala.

KEBERADAAN BERHALA DI SEKITAR KA’BAH

Tokoh ‘Ammar bin Luhay merupakan orang yang pertama kali menyebarkan ajaran menyembah berhala di seluruh Jazirah Arab. Dialah yang bertanggung jawab merubah ajaran tauhid menjadi menyembah berhala. Sejak itu, orang-orang Arab meletakkan patung dan berhala yang mereka anggap sebagai tuhan di sekitar Ka’bah. Bahkan sebagian kabilah Mekkah mempunyai mata pencaharian sebagai pembuat patung dan berhala.

Mereka tetap memperbolehkan kabilah atau kelompok lain untuk menunaikan haji ke Baitullah, tanpa membedakan agama dan kepercayaan. Para pemeluk agama tauhid termasuk agama Masehi, masih terus menjalankan ritual haji ke Ka’bah. Saat itu, kondisi Ka’bah sangat memprihatinkan. Dindingnya dipenuhi puisi dan lukisan. Bahkan lebih dari 360 berhala terdapat di sekitar Ka’bah.

Selama periode haji itu, suasana di sekitar Ka’bah layaknya seperti sirkus. Laki-laki dan perempuan mengelilingi Ka’bah dengan telanjang. Mereka menyatakan harus menampilkan diri dihadapan Allah dalam kondisi yang sama seperti saat lahir. Doa mereka menjadi bebas tak lagi tulus mengingat Allah. Bahkan berubah menjadi serangkaian tepuk tangan,bersiul, dan meniup terompet dari tanduk hewan.

Kalimat talbiah (Labbaika Allahumma Labbaik) telah diselewengkan oleh mereka dengan kalimat tambahan yang berbeda maknanya. Lebih parah lagi, darah hewan kurban dituangkan ke dinding Ka’bah dan dagingnya digantung di tiang sekitar Ka’bah. Mereka punya keyakinan bahwa Allah menuntuk daging dan darah tersebut. Mengenai hal ini Allah Swt mengingatkan dengan firmannya:’

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS.Al-Hajj :37)

Para peziarah bebas bernyanyi, minum arak, melakukan zina, dan perbuatan amoral lainnya. Lomba puisi adalah bagian utama dari seluruh rangkaian haji.  Dalam kompetisi ini,setiap penyair akan memuji keberanian dan kemegahan sukunya. Mereka menyampaikan cerita yang berlebihan,kepengecutan, dan kekikiran suku-suku lainnya. Ada juga kompetisi dalam “kemurahan hati”. Masing-masing kepala suku akan menyediakan kualibesar dan memberi makan para peziarah. Tujuannya agar bisa menjadi terkenal karena kemurahan hati mereka.

Mereka telah meninggalkan, menodai dan menyelewengkan ajaran suci Nabi Ibtahim as yang mengajak menyembah Allah semata. Keadaan menyedihkan itu berlangsung selama kuarng lebih dua ribu tahun.

HAJI & UMRAH ERA RASULULLOH SAW

Tetapi setelah periode panjang ini, terjawablah doa Nabi Ibrahim as yang tercantum dalam Al-Qur’an :

“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rosul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al Hikmah (As Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Albaqarah : 129)

Nabi Muhammad tidak hanya membersihkan Ka’bah dari segala kotoran, tetapi juga mengembalikan kemurnian ibadah haji sesuai tuntunan Allah sejak jaman Nabi Ibrahim AS.

Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai jawaban atas doa Nabi Ibrahim AS tersebut. Selama 23 tahun Nabi Muhammad SAW menyebarkan pesan Tauhid, pesan yang sama seperti yang dibawa Nabi Ibrahim AS dan semua Nabi pendahulunya, untuk menegakkan hukum Allah dimuka bumi.

Terdapat perintah khusus dalam Al Qur’an yang diturunkan dalam rangka menghilangkan semua upacara palsu yang telah merajalela pada masa sebelum Islam. Semua tindakan tidak senonoh dan memalukan itu sangat dilarang sebagaimana dalam pernyatan Allah dalam Al Qur’an :

“Musim haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa menetapkan niatnya dalam bualn itu akan mengerjakan haji, maka tidak diperbolehkan rafats (mengeluarkan perkataan yang menimbulkan birahi yang tidak senonoh atau bersetubuh), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (QS Al Baqarah : 197)

Rasululloh SAW memerintahkan para sahabat yang mampu terutama kaum Anshar (pribumi Madinah) yang tidak dikenali oleh orang-orang Mekkah, untuk menunaikan ibadah haji sesuai dengan manasik Nabi Ibrahim AS. Mereka tidak mengerjakan amalan-amalan yang berhubungan dengan penyembahan berhala. Ketika kembali dari haji, kaum Anshar melapor kepada Rasululloh SAW bahwa mereka mengerjakan sa’i dengan keraguan. Ditengah mas’a (jalur sa’i) antara Shafa dan Marwa terdapat dua berhala besar Asaf dan Na’ilah. Oleh karena itu turunlah wahyu Allah SWT yaitu :

” Sesungguhnya Shafa dan Marwa itu sebagian dari syiar-syiar Allah. maka barangsiapa berhaji ke baitullah atau berkunjung (umrah), tidak salah baginya untuk bolak balik pada keduanya. Dan barangsiapa menambah kebaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pembalas Syukur lagi Maha Mengetahui. ” (QS. Al Baqarah : 158)

Ayat inilah yang akan sering dibaca oleh para jamaah haji ketika melakukan sa’i.

Pada bulan April 628 M (Dzulkaidah 6 H) Rasululloh bermimpi menunaikan umrah ke Mekkah. Beliau mengajak para shahabat untuk mewujudkan mimpi tersebut. Rasululloh dengan disertai 1.500 shahabat berangkat menuju Mekkah, mengenakan pakaian ihram dan membawa hewan-hewan kurban.

Kaum musyrikin Quraisy mengerahkan pasukan untuk menghalangi, sehingga rombongan dari Madinah tertahan di Hudaibiyyah, 20 km disebelah barat laut Mekkah.

Hudaibiyyah

Reruntuhan tempat perjanjian Hudaibiyyah

Kaum Quraisy mengutus Suhail Ibn Amr untuk berunding dengan Rasululloh. Suhail mengusulkan antara lain kesepakatan genjatan senjata dan kaum muslimin harus menunda Umrah dengan kembali ke Madinah. Tetapi tahun depan akan diberikan kebebasan melakukan Umrah dan tinggal selama 3 hari di Mekkah. Rasululloh SAW menyetujui perjanjian ini meskipun para shahabat banyak yang kecewa.

Secara singkat isi perjanjian tersebut kelihatannya merugikan kaum muslimin, tetapi sesungguhnya secara politis sangat menguntungkan bagi kaum muslimin.

Masjid Hudaibiyyah

Masjid Hudaibiyyah

Perjanjian Hudaibiyyah merupakan salah satu tonggak penting dalam sejarah Islam karena untuk pertama kalinya kaum Quraisy di Mekkah mengakui kedaulatan kaum Muslimin di Madinah.

Dalam perjalanan pulang ke Madinah, turunlah wahyu Allah sebagai berikut :

“Sungguh Allah akan memenuhi mimpi RasulNya dengan sebenar-benarnya. , bahwa kamu akan memasuki Masjidil Haram insya Allah dengan aman. Kamu akan mencukur kepalamu atau menggunting rambut (menyelesaikan umroh) dengan tidak merasa takut. Dia mengetahui apa yang tidak kau ketahui dan DIA menjadikan selain itu sebagai  kemenangan yang dekat.” (QS Al Fath : 27)

Sesuai dengan perjanjian Hudaibiyah, tahun berikutnya (Maret 629 Masehi atau Zulkaidah 7 Hijriyah) Rasullah Saw. beserta para sahabat untuk pertama kalinya melakukan umrah ke Baitullah. Ketika rombongan Rosulullah Saw yang berjumlah sekitar 2.000 orang memasuki pelataran Ka’bah untuk melakukan tawaf, orang-orang Mekkah berkumpul menonton di bukit Qubais dengan berteriak bahwa kaum Muslimin kelihatan letih dan pasti tidak kuat berkeliling tujuh putaran. Mendengar ejekan ini, Rasulullah Saw bersabda kepada para jamaahnya, “Marilah kitatunjukan kepada mereka bahwa kita kuat. Bahu kanan kita terbuka dari kain ihram, dan kita lakukan tawaf sambil berlari!”

Hajar Aswad

Hajar Aswad

Sesudah mencium hajar Aswad, Rasulullah Saw, dan para sahabat memulai tawaf dengan berlari-lari mengelilingi Ka’bah sehingga para pengejek akhirnya bubar. Pada putaran keempat setelah orang-orang usil diatas bukit Qubai pergi, Rasulullah mengajak para sahabat berhenti berlari dan berjalan seperti biasa. Inilah latar belakang beberapa sunah tawaf di kemudian hari : bahu kanan yang terbuka (idhthiba’) serta berlari-lari kecil pada tigaputaran pertamakhusus pada tawaf yang pertama.

maqam-ibrahim-kabah

Maqam Ibrahim

Selesai tujuh putaran, Rasulullah Saw, Shalat dua rakaat di Makom Ibrahim, kemudian minum air Zamzam dan akhirnya melakukan tahalul (menghalalkan kembali) atau membebaskan diri dari larangan-larangan ihram , dengan menyuruh Khirasy mencukur kepala beliau. Ketika masuk waktu dzuhur, Rasulullah Saw menyuruh Bilal ibn Rabah naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan azan.

Suara adzan Bilal menggema ke segenap penjuru sehingga orang-orang Mekkah berkumpul kearah “suara aneh” yang baru pertama kali mereka dengar. Kaum Musyrikin menyaksikan betapa rapinya saf-saf kaum Muslimin yang sedang shalat berjamaah. Hari itu, 17 Zulkaidah 7 hijriyah (17 Maret 629M), untuk pertama kalinya azan  berkumandang di Mekkah dan Nabi Muhammad Saw. menjadi imam shalat di depan Ka’bah.

Sesuai dengan isi Perjanjian Hudaibiyyah, Rasululloh SAW dan para shahabat  yang hanya tiga hari berada di Mekkah, kembali ke Madinah. Tetapi Umrah tiga hari yang dilakukan kaum Muslimin di Mekkah menimbulkan kesan yang mendalam bagi orang-orang Quraisy. Tiga orang terkemuka Quraisy yaitu Khalid Bin Walid, Amru Bin Ash dan Utsman Bin Thalhah, menyusul ke Madinah untuk mengucapkan kalimat syahadat. Di kemudian hari pada masa Kekhalifahan Umar Bin Khattab RA (634 – 644 M), Khalid Bin Walid RA memimpin pasukan Islam membebaskan Suriah dan Palestina, serta Amru Bin Ash RA membebaskan Mesir dari kekuasaan Romawi. Utsman Bin Thalhah RA dan keturunannya kelak diberi kepercayaan oleh Rasululloh untuk memegang kunci Ka’bah.

Sampai hari ini, meskipun yang menguasai dan memelihara Ka’bah berganti hingga Dinasti Saudi sekarang, kunci Ka’bah tetap dipegang oleh keturunan Utsman Ibn Thalhah RA dari Bani Syaibah.

Beberapa bulan sesudah Rasulullah SAW umrah, kaum Quraisy melanggar perjanjian gencatan senjata sehingga pada 20 Ramadhan 8 H (11 Januari 630 M) Rasululloh beserta sekitar 10.000 pasukan menaklukan Mekkah tanpa ada pertumpahan darah. Bahkan, Rasululloh memberikan amnesti kepada warga Mekkah yang dahulu memusuhi Muslimin.

Tiada balas dendam bagimu hari ini. Semoga Allah mengampuni kalian dan Dia Paling Penyayang diantara para penyayang“, demikian sabda Rasululloh SAW mengutip ucapan Nabi Yusuf AS yang tercantum dalam Surat Yusuf ayat 92. Akibatnya, seluruh kaum Quraisy masuk Islam. Kemudian turunlah Surat An Nashr :

“Tatkala datang peretolongan Allah dan kemenangan, engkau melihat manusia masuk kedalam agama Allah berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan memohon apunlah kepadaNya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima Taubat”. (QS An Nashr : 1-3)

Dengan jatuhnya kota Mekkah ke tangan Ummat Islam, kemudian Rasululloh SAW memerintahkan pemusnahan berhala-berhala disekeliling Ka’bah, dan membersihkan Ibadah Haji dari unsur-unsur kemusyrikan serta mengembalikannya kepada syariat Nabi Ibrahim yang asli.

Pada tahun 8 H, Rasululloh SAW melakukan Umroh 2 kali yaitu ketika menaklukan Mekkah serta ketika beliau pulang dari perang Hunain. Ditambah dengan umroh pada tahun sebelumnya berarti Rasululloh sempat melakukan Umroh 3 kali sebelum beliau mengerjakan ibadah Haji pada tahun 10 H.

Pada bulan Dzulhijjah 9 H (Maret 631 M) Rasululloh mengutus shahabat Abu Bakar Ash Shiddiq untuk memimpin Ibadah Haji. Rasululloh sendiri tidak ikut karena beliau sibuk dalam menghadapi perang Tabuk melawan Pasukan Romawi.

Abu Bakar Ash Siddiq mendapatkan perintah untuk mengumumkan Dekrit yang baru saja diterima oleh Rasuluuloh SAW. Dekrit tersebut menyatakan bahwa mulai tahun depan kaum musyrikin dilarang mendekati Masjidil Haram dan menunaikan ibadah haji karena sesungguhnya mereka bukanlah penganut ajaran nabi Ibrahim AS.

Dekrit tersebut dikeluarkan Rasululloh berdasarkan firman Allah :

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis (kotor jiwa) karena itu janganlah mereka mendekati Masjidil Haram setelah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin (karena orang kafir tidak datang) maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunia-Nya jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana”. (QS At Taubah : 28)

HAJI WADA’ RASULULLOH SAW

Pada tahun 10 H (632 M) Semenanjung Arabia telah dipersatukan dibawah kekuasaan Nabi Muhammad SAW yang berpusat di Madinah dan seluruh penduduknya telah memeluk agama Islam. Maka pada bulan Syawal Rasululloh mengumumkan bahwa beliau sendiri yang akan memimpin Ibadah Haji tahun itu. Berita ini disambut hangat oleh seluruh ummat dari segala penjuru. Sebab mereka berkesempatan mendampingi Rasululloh dan menyaksikan setiap langkah beliau dalam melakukan manasik (tata cara) haji.

Masjid Birr 'Ali Dzul Hulaifah

Masjid Birr ‘Ali Dzul Hulaifah

Rasululloh SAW berangkat dari Madinah sesudah shalat Jum’at tanggal 25 Dzulkaidah (21 Februari) mengendarai unta beliau yang bernama Al Qashwa dengan diikuti sekitar 30.000 jamaah. Seluruh istri beliau ikut serta dan juga putri beliau yang saat itu masih hidup yaitu Fatimah. Sesampai di Dzulhulaifah (Birr ‘Aliy) yang berjarak belasan kilometer dari Madinah , Rasululloh dan rombongan singgah untuk istirahat dan mempersiapkan ihram.

Disini Istri Abu Bakar Ash Shiddiq melahirkan putra yang diberi nama Muhammad. Abu Bakar berniat mengembalikannya ke Madinah. Tetapi Rasululloh SAW mengatakan bahwa istri Abu Bakar cukup mandi bersuci, memakai pembalut yang rapi dan dapat melakukan seluruh manasik Haji. Muhammad Bin Abu Bakar RA yang lahir di Dzulhulaifah itu kelak menjadi Gubernur Mesir pada masa Khalifah Ali Bin Abi Thallib RA (656 – 661 M).

Keesokan harinya, Sabtu 26 Dzulkaidah (22 Februari) setelah semuanya siap untuk berihram, Rasululloh SAW menaiki unta kembali, lalu bersama seluruh jamaah mengucapkan niat haji : Labbaika Allahumma Hajjan. Tidak ada seorangpun yang berniat umroh sebab menurut tradisi saat itu umroh hanya dibolehkan diluar musim haji. Tiga cara haji yaitu Tamattu’, Ifrad dan Qiran) yang kita kenal sekarang baru diterapkan Rasulullah di Mekkah 8 hari berikutnya.

Rombongan menuju Mekkah dengan tiada henti mengucapkan Talbiyah. Pada hari Sabtu 3 Dzulhijjah (29 Februari) Rasulullah dan rombongan tiba di Sarif, 15 km utara Mekkah dan beristirahat. Aisyah RA istri Nabi kedatangan masa haidnya sehingga dia menangis karena khawatir tidak bisa menunaikan ibadah haji. Rasulullah SAW menghiburnya, “Sesungguhnya haid itu ketentuan Allah untuk putri-putri Adam. Segeralah mandi dan engkau dapat melakukan semua manasik haji, kecuali tawwaf sampai engkau suci.”

Pada Ahad 4 Dzulhijjah (1 Maret) pagi, Rasululloh dan rombongan memasuki kota Mekkah. Disana sudah menunggu puluhan ribu ummat yang datang dari berbagai penjuru dan diperkirakan total jamaah haji yang datang waktu itu mencapai lebih dari 100.000 jamaah. Rasululloh memasuki Masjidil Haram melalui gerbang Banu Syaibah yang terletak disamping telaga Zamzam di belakang Maqam Ibrahim. Gerbang Banu Syaibah ini kelak dikemudian hari populer dengan nama Baabussalam (Gerbang Kedamaian).

Ka'bah lama

Ka’bah lama (ilustrasi)

Perlu diketahui bahwa yang disebut Masjidil Haram pada waktu itu adalah pelataran Ka’bah tempat shalat dan tawwaf. Sedangkan bangunan masjid baru dirintis pada masa Khalifah Umar Bin Khattab RA (634 – 644 M) dan mengalami perluasaan dari zaman ke zaman sehingga akhirnya megah seperti sekarang.

Juga perlu diketahui bahwa Rasulullah tidak pernah memerintahkan harus masuk Masjidil Haram dari gerbang banu Syaibah atau Baabussalam. Rasulullah masuk melalui pintu itu karena beliau datang dari arah utara. Gerbang yang dimasuki Nabi itu kini tidak ada lagi. Ketika pada tahun 1957 Masjidil Haram diperluas sehingga tempat Sa’i termasuk Shafa dan Marwa menjadi bagian Masjid. Kemudian pemerintah Arab Saudi membuat banyak pintu. Dua pintu diantaranya diberi nama Pintu Banu Syaibah dan Pintu baabussalam.

BEBERAPA MANASIK HAJI RASULULLAH

Pada awal setiap putaran tawwaf, Jamaah haji/umroh disunnahkan untuk memberikan penghormatan (Istislam) kearah hajar Aswad di pojok tenggara Ka’bah. Rasulullah mengajarkan tentang 4 cara melakukan Istislam tersebut :

  1. Ketika umrah pertama kali tahun 7 H, beliau mengecup hajar Aswad.
  2. Ketika penaklukan Mekkah, beliau menyentuhkan ujung tongkat ke Hajar aswad dari atas unta.
  3. Ketika umrah saat pulang dari perang Hunain, Hajar Aswad beliau usap dengan tangan kanan.
  4. Ketika beliau haji di tahun 10 H, beliau hanya melambaikan tangan dari jauh ke arah Hajar Aswad.

Rasulullah SAW melakukan tawwaf tujuh putaran. Ummu Salamah (salah satu istri beliau) bertawaf dengan ditandu sebab sedang sakit. Setiap melewati Rukun Yamani Rasulullah cuma mengusapnya dengan tangan. Diantara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, Rasulullah mengucapkan doa :

“Robbanaa aatinaa fid duniya hasanah. Wafil aakhiroti hasanah. Waqinaa ‘adzaaban naar (Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat serta peliharalah kami dari adzb neraka).”

Setelah selesai tujuh putaran, beliau shalat 2 rakaat di belakang Maqam Ibrahim, kemudian melanjutkan pergi ke telaga Zamzam. Beliau meminum air zamzam dan membasahi kepala beliau.

Sai-safa-to-Marwah

Sa’i, dari Safa ke Marwa

Sesudah itu Raulullah menuju bukit Shafa untuk memulai sa’i. Beliau naik ke bukit, lalu menghadap ke Ka’bah, bertakbir 3 kali dan berdoa. Kemudian beliau turun ke lembah menuju Marwa dengan berlari-lari kecil antara Masil dan Bait Aqil (kini Masil dan Bait Aqil ditandai dengan lampu hijau. Sebagai catatan, jarak dari Shafa ke Masil 100 meter, dari Masil ke Bait Aqil 80 meter, dan dari Bait Aqil ke Marwa 240 meter). Sesampai di Marwa Rasulullah SAW melakukan hal serupa seperti yang dilakukan di bukit Shafa. Demikianlah Rasulullah melakukannya dengan bolak balik sebanyak 7 kali.

preview_html_m21b2c290

Tahallul

Setelah selesai Sa’i, Rasulullah di Marwa menginstruksikan sesuatu yang mengejutkan para sahabat karena belum pernah terjadi sebelumnya. Rasulullah memerintahkan seluruh sahabat yang tidak membawa hadyu (hewan qurban) agar mengubah niat haji menjadi umrah. Padahal selama ini umrah hanya dilakukan diluar musim haji. Dengan mengubah niat menjadi umrah, sebagian besar jamaah haji yang tidak membawa hadyu dapat bertahallul (bebas dari larangan ihram). Kemudian berihram lagi untuk haji tanggal 8 Dzulhijjah. Karena mereka tidak membawa hadyu dari rumah, tentu pada hari Nahar (10 Dzulhijjah) atau hari-hari Tasyrik (11 – 13 Dzulhijjah) mereka harus membeli hewan untuk dijadikan hadyu. Inilah yang kelak dikenal sebagai Haji Tamattu’, artinya “bersenang-senang” sebab masa ihram hanya beberapa hari saja.

 Pada mulanya para sahabat ragu-ragu melaksanakan perintah Nabi karena manasik seperti itu (umrah di musim haji) belum pernah ada. Apalagi Rasulullah sendiri ternyata tidak bertahallul. Melihat keraguan para sahabat, Rasulullah bersabda :

“Seandainya aku tidak membawa hadyu, akupun akan mengubah hajiku menjadi umrah. Tetapi aku telah menghadapi urusanku (membawa hadyu) dan tidak dapat mundur lagi sehingga aku tidak akan bertahallul sampai aku menyembelih hadyuku”.

Ada juga para sahabat yang penasaran bertanya : “Tahallul untuk apa saja yaa Rasulullah ?”. “Tahallul untuk semuanya“, jawab Nabi. Kemudian Rasulullah menegaskan, ” Telah masuk umrah ke dalam haji untuk selama-lamanya.” Artinya, umrah dapat dikerjakan di musim haji.

Mendengar penegasan Rasulullah tersebut, para sahabat yang sebagian besar tidak membawa hadyu bertahallul secara massal. Hanya Rasulullah dan sebagian kecil sahabat yang tetap berihram sebab mereka membawa hadyu.

Sejak saat itu, mulailah dikenal tiga cara Ibad,ah haji, yaitu :

  1. Haji Tamattu’ (Bersenang-senang) yaitu melakukan Umrah dulu, baru kemudian berhaji. Diperuntukkan bagi mereka yang tidak membawa hadyu dari rumah mereka.
  2. Haji Ifrad (Mandiri) yaitu melakukan haji dulu baru kemudian melakukan Umrah. Diperuntukkan bagi penduduk Mekkah yang membawa hadyu.
  3. Haji Qiran (Gabungan) yaitu melakukan haji dan Umrah langsung digabungkan. Diperuntukkan bagi yang bukan penduduk Mekkah dan membawa hadyu.

Cara terakhir inilah (Haji Qiran) yang dikerjakan Rasulullah SAW dalam ibadah haji beliau. Hal ini disimpulkan dari fakta bahwa beliau membawa hadyu dan setelah selesai mengerjakan haji tidak lagi melakukan umrah secara terpisah sampai beliau kembali ke Madinah pada tanggal 14 Dzulhijjah.

Sebenarnya cara Haji Tamattu’ bukanlah inovasi dari Rasulullah, melainkan memang diperintahkan oleh Allah sebagai keringanan bagi Ummat-Nya. Hal ini berdasarkan wahyu yang turun ketika Rasulullah dan rombongan tertahan di Hudaibiyah empat tahun sebelumnya (tahun 6 H). Tetapi baru pada ibadah haji tahun 10 H Rasululloh berkesempatan menerapkannya. Tentang Haji Tamattu’ itu tercantum dalam QS Al Baqarah ayat 196.

Ketika Rasulullah dan rombongan berangkat dari Dzulhulaifah, semua berniat haji dan tidak seorangpun  yang berniat umrah meskipun sebagian besar tidak membawa hadyu. Sebagaimana dikemukakan oleh Aisyah RA istri Rasulullah dalam hadits : “Kami keluar bersama Nabi SAW hanya dengan tujuan haji. Ketika kami selesai melakukan thawwaf dan sa’i, barulah Rasulullah memerintahkan yang tidak membawa hadyu untuk bertahallul.

Keterangan lebih tegas lagi dari Jabir Bin Abdillah RA sahabat yang paling lengkap bercerita tentang kisah Haji Rasulullah SAW.

“Kami para shahabat Rasulullah SAW bertujuan haji yang murni (khalishan), tidak mencampurkannya dengan Umrah sebab kami tidak mengenal Umrah”.

Maksud Jabir RA sudah tentu adalah tidak mengenal umrah di musim haji, sebab ketika di Dzulhulaifah, syariat bahwa umrah harus dilakukan diluar musim haji belum dihapuskan oleh Rasulullah SAW.

Nabi SAW sebagai pemimpin yang bijaksana menunggu saat yang tepat dalam menerapkan perintah Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 196, agar ummat tidak terkejut dengan sistem baru (Haji harus disertai Umrah) . Ketika Rasulullah dan rombongan beristirahat di Sarif pada tanggal 3 Dzulhijjah sebelum masuk Mekkah, beliau mulai melakukan sosialisasi sistem baru dengan mengumumkan kepada jamaah haji, “Barangsiapa yang mau menjadikannya Umrah, jadikanlah hajimu menjadi Umrah”.

Disinilah Rasulullah hanya menghimbau dengan kalimat “siapa yang mau”. Esok harinya tanggal 4 Dzulhijjah tahun 10H (1 Maret 632M) keetika semua jamaah haji dari berbagai penjuru sudah berkumpul di Mekkah, serta jamaah telah santai karena sudah melaksanakan Thawwaf dan Sa’i, barulah Rasulullah memerintahkan cara Haji Tamattu’ bagi yang tidak membawa Hadyu dan mendekritkan terintegrasinya Umrah ke dalam Haji. Hal inipun ternyata menimbulkan suasana heboh dikalangan para shabat, sehingga Rasulullah harus ekstra sabar untuk meyakinkan para shahabat yang awalnya enggan meralat niat hajinya menjadi umrah.

Dari penjelasan tersebut, untuk jemaah haji asal Indonesia yang bukan pribumi Mekkah dan dipastikan tidak membawa hadyu dari rumah, maka tidak ada pilihan lain kecuali melaksanakan perintah Rasulullah SAW untuk mengambil cara Haji Tamattu’. Hal ini berlaku baik bagi jamaah haji gelombang pertama (yang ke Madinah dulu) ataupun jamaah haji gelombang kedua (yang langsung ke Mekkah).

tempat-mustajab-doa-di-masjidil-haram-hijr-ismail-01

Hijir Ismail, area berwarna putih depan Ka’bah

Dari tanggal 5 – 7 Dzulhijjah (2-4 Maret) Rasulullah SAW melakukan kegiatan : Memimpin shalat di Masjidil Haram, melakukan thawwaf sunnah dan shalat sunnah di Hijr Ismail.

Meskipun Rasulullah dalam keadaan berihram, beliau menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat lahir beliau di Suq Al Layl dan berziarah ke makam istri yang paling beliau cintai yaitu Khadijah Al Kubro RA yang terletak di Ma’la.

Pada Kamis 8 Dzulhijjah (5 Maret), Rasulullah SAW memerintahkan ummat beliau yang memakai cara Tamattu’ kembali mengenakan pakaian ihram dan menjauhi larangan-larangan ihram untuk memulai ibadah haji. Mereka yang melakukan cara Ifrad atau Qiran (termasuk Rasulullah sendiri) memang sudah dalam keadaan berihram, karena setelah melakukan thawwaf dan sa’i mereka tidak bertahallul.

Mina's_tents

Kawasan Mina sekarang

Pada 8 Dzulhijjah pagi, Rasulullah beserta jamaah haji pergi menuju Mina untuk mempersiapkan air, sebab mulai tanggal 10 Dzulhijjah sesudah pulang dari Arafah mereka akan tinggal di Mina selama beberapa hari. Itulah sebabnya tanggal 8 Dzulhijjah disebut hari Tarwiyyah (mempersiapkan air).

Pada jaman modern seperti sekarang ini, meskipun air di Mina sudah berlimpah ruah sehingga jamaah tidak perlu mempersiapkan air di Mina (Tarwiyyah), tetapi sebagian besar Ulama tetap berpendapat bahwa pergi ke Mina pada 8 Dzulhijjah merupakan salah satu sunnah haji. Paling tidak itu perlu dilakukan untuk napak tilas perjalanan haji Nabi.

wuquf

Jabal Rahmah, Arafah

Pada hari Jum’at 9 Dzulhijjah (6 Maret) sesudah matahari terbit, Rasulullah SAW dan seluruh Jamaah haji berangkat menuju Arofah. Ketika melalui Muzdalifah, kaum Quraisy berharap agar Rasulullah berhenti sebab selama ini kaum Quraisy selalu berwukuf di Masy’ar Al Haram (Muzdalifah), sedangkan yang berwukuf di Arafah adalah mereka yang bukan dari kaum Quraisy. Oleh karena itu Rasulullah memerintahkan agar seluruh jamaah haji tanpa kecuali kembali kepada syaria’at Ibrahim untuk berwukuf di Arafah, sesuai dengan firman Allah :

“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat orang banyak bertolak (Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah. Sungguh Allah Maha Pengampun lagi Mah

Daftar